Author: Aditia

Hal-hal Wajar tapi sering Dipertanyakan Terkait Sekolah Pilot

Setiap tahunnya, minat siswa untuk mendaftarkan diri ke sekolah pilot terbilang cukup banyak. Hal ini terbukti dengan ramainya para pendaftar di berbagai sekolah penerbangan yang ada saat ini. Mereka berharap bahwa mereka bisa menjadi bagian sekolah yang mereka impikan dan kemudian mewujudkan cita-cita mereka untuk bisa bekerja di maskapai penerbangan. Sayangnya, sekolah kejuruan ini tidak sama dengan sekolah-sekolah pada umumnya karena biaya sekolah yang mahal, jumlah siswa yang diterima tidak banyak di setiap angkatannya, dan setelah lulus pun mereka belum dijamin bisa mendapatkan pekerjaan di airline. Hal-hal ini pula yang sering dipertanyakan oleh kebanyakan orang pada akhirnya. Well, untuk menjawab rasa penasaran terkait hal ini, silahkan simak penjelasannya berikut ini:

Biaya sekolah pilot yang mahal

Tidak dapat dipungkiri bahwa biaya sekolah pilot sudah hampir menyentuh angka 1 M. Wow, sekali bukan? Namun, sebenarnya hal ini wajar-wajar saja mengingat fasilitas dan gaji instruktur sekolah ini tidaklah murah. Bayangkan saja berapa ratus juta uang yang harus dikeluarkan untuk membeli satu pesawat latih dan berapa puluh juta uang yang harus dihabiskan untuk menyewa landasan terbang jika sekolah pilot tidak punya bandara pribadi. Kalikan juga berapa gaji para pengajar di sana yang tentunya berbeda dengan pengajar-pengajar di sekolah biasanya. Belum lagi, perawatan untuk pesawat latih yang jumlahnya jelas tidak hanya satu saja. Dengan demikian, tak heran jika pihak sekolah pilot mematok biaya sekolah pilot yang mahal untuk setiap kadet yang berhasil menjadi bagian sekolah tersebut.

Jumlah siswa yang diterima sedikit

Berbeda dengan sekolah tinggi atau universitas yang bisa menerima pelajar lebih dari 100 orang setiap angkatannya, sekolah pilot biasanya hanya menerima belasan siswa per angkatan. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan sekolah pilot ingin menghasilkan calon-calon pilot berkualitas dan menghindari ketidakefektifan dalam proses pembelajaran dan pelatihan baik di kelas maupun saat menerbangkan pesawat. Coba saja bayangkan, jika jumlah kadet ratusan orang dan jumlah pesawat latih hanya 10 unit, jelas hal ini sangat tidak efektif dan tidak baik untuk pihak sekolah sendiri maupun para kadet. Ya, mereka harus mengantri lama untuk mendapatkan giliran. Hal ini dilakukan oleh seluruh sekolah pilot di tanah air, termasuk Bali International Flight Academy, Nusa Flying School, Bandung Pilot Academy, dan sekolah pilot lainnya.

Lulusan yang tidak langsung bekerja

Mengapa lulusan sekolah pilot tidak langsung mendapatkan pekerjaan? Jika kembali ke tahun 90-an, jelas sekolah jurusan ini bisa dikatakan menjamin lulusannya untuk bisa bekerja di maskapai penerbangan. Namun, tidak untuk saat ini. Hal ini disebabkan karena jumlah sekolah pilot yang sudah bertambah, jumlah lulusan yang semakin banyak, dan kebutuhan maskapai penerbangan untuk bagian pilot sudah banyak terisi penuh. Dengan demikian, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat. Memang, harapan untuk mendapatkan pekerjaan sangat terbuka lebar tapi setiap lulusan dituntut untuk berkompetisi dengan lulusan-lulusan lainnya yang juga sama-sama mencari pekerjaan. Kondisi inilah yang membuat sebagian besar lulusan sekolah penerbangan tidak langsung bekerja. Mereka masih harus menunggu lowongan pekerjaan dan bersaing dengan lulusan lainnya.

Ingin Masuk Sekolah Pilot? Pahami Resiko Ini

Perkembangan dunia penerbangan yang semakin pesat ditandai dengan pertambahan rute penerbangan sekaligus armada yang dilakukan oleh pihak airline nyatanya membuat peluang kerja sebagai pilot semakin besar. Jika Anda ingin cepat masuk ke dunia kerja setelah kelulusan, jadilah kadet di sekolah pilot. Syarat dasar yang harus Anda penuhi yakni berbadan sehat, berkemampuan bahasa Inggris yang bagus, dan berkelakuan baik. Siap masuk sekolah pilot, berarti Anda harus siap dengan segala resikonya. Berikut berbagai resiko yang harus dihadapi ketika menjadi kadet sekolah penerbangan:

Menyiapkan banyak biaya

Pendidikan & pelatihan di sekolah penerbangan nyatanya lebih singkat dibanding sekolah pada umumnya yakni sekitar 12 bulan lebih tergantung cuaca, fasilitas, serta program pendidikan yang dipilih. Meski durasinya singkat, biaya yang harus dikeluarkan justru lebih banyak. Kabarnya mencapai 800 jutaan lebih. Ini hal yang wajar mengingat kadet akan praktek menggunakan simulator & pesawat latih yang harus impor dengan biaya yang tidak sedikit. Artinya, mau tak mau harus menyiapkan banyak biaya jika ingin menjadi kadet di sekolah penerbangan. Tapi biasanya sekolah penerbangan memberikan keringanan pembayaran dengan cicilan yang harus segera dilunasi sebelum masa pendidikan berakhir.

Menjalani pendidikan semi militer

Di samping harus menyiapkan banyak biaya, resiko lain yang harus dihadapi jika ingin menjadi kadet sekolah pilot adalah siap menjalani pendidikan semi militer meskipun Anda berjenis kelamin perempuan sekalipun. Pendidikan semi militer adalah pendidikan yang sarat akan kegiatan fisik  yang menguras energi & tentunya bakal sangat melelahkan. Tujuannya apa? Para kadet digembleng dengan pendidian semi militer tidak lain untuk meningkatkan ketangkasan sekaligus kedisiplinan akan berbagai hal yang berguna ketika telah menjadi pilot nantinya. Agar tidak terasa berat menjalani pendidikan semi militer di sekolah pilot, Anda harus ingat tujuan awal masuk sekolah pilot.

Mengalami homesick

Kadet di sekolah pilot nyatanya harus tinggal di asrama yang telah disediakan oleh pihak sekolah agar pendidikan & pelatihan jadi lebih maksimal. Ini berarti, siap sekolah pilot berarti harus siap mengalami homesick karena jauh dari keluarga. Namun, jangan biarkan homesick membuat Anda tidak bergairah dalam belajar. Hal ini justru bakal membuat waktu, tenaga, dan biaya yang telah dikeluarkan selama ini sia-sia saja. Lantas, bagaimana cara mengatasi homesick saat tinggal di asrama sekolah pilot? Pertama, menjaga komunikasi dengan keluarga. Pesatnya kecanggihan teknologi saat ini, tentu tidak kerepotan untuk berkomunikasi dengan mereka melalui video call, chat, atau lainnya. Kedua, menjalin keakraban dengan kadet lainnya. Homesick muncul karena Anda merasa kesepian. Oleh sebab itu, jadikan kadet lain sebagai keluarga Anda ketika di asrama agar tidak merasa sendiri. Ketiga, selalu ingat dengan tujuan Anda menjadi kadet pilot sehingga bisa mengikis kerinduan mendalam pada keluarga.

Demikianlah resiko yang harus Anda hadapi ketika ingin menjadi kadet di sekolah penerbangan. Jika merasa tidak siap menghadapi resiko tsb, sebaiknya jangan memaksakan diri. Sesuatu yang dipaksakan ujungnya bakal buruk, entah tidak bisa menyelesaikan pendidikan, sulit menyerap materi pelajaran, atau justru tidak termotivasi untuk belajar.

Mempersiapkan Diri Jadi Kadet Sekolah Pilot dari Sekarang

Meskipun tanggung jawab yang harus dipikul seorang pilot sangat besar karena nyawa ratusan penumpang pada tiap penerbangan ada dikendali pilot, tapi pilot tetap menjadi profesi idaman kebanyakan orang. Rasa bangga ketika mengenakan seragam kebesaran pilot karena tidak semua orang bisa memakainya, gaji bulanan yang menggiurkan bahkan meski baru memulai karir di dunia penerbangan, serta tanah air bahkan negara lain bisa dikunjungi tanpa mengeluarkan biaya menjadi sederet alasannya. Kamu ingin menjadi seorang penerbang? Sebagai langkah awal, kamu harus menimba ilmu di sekolah pilot. Sayangnya, tidak mudah masuk sekolah pilot. Ada seleksi ketat yang harus kamu lalui. Maka dari itu, siapkan diri sebaik mungkin agar bisa lolos menjadi kadet di sekolah pilot dari sekarang!

Ikuti kursus bahasa Inggris

Bahasa pengantar yang dipakai umumnya bahasa Inggris, apalagi sekolah pilot yang menggandeng instruktur penerbangan berkewarganegaraan asing. Di samping itu, buku panduan penerbangan juga rata-rata menggunakan bahasa Inggris karena diterbitkan oleh penerbit luar negeri. Saat latihan penerbangan dengan pesawat latih sungguhan, kadet akan berkomunikasi dengan pihak ATC memakai bahasa Inggris. Tak heran apabila calon kadet diharuskan memiliki kemampuan dalam membaca, menulis, mendengarkan, dan berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Bahkan, rata-rata sekolah pilot umumnya mensyaratkan calon kadet memiliki score TOEFL sebesar 400. Bagaimana dengan kemampuan bahasa Inggris kamu? Kalau belum sampai 400, harus belajar bahasa Inggris secara intensif bahkan ambil kursus.

Ambil jurusan IPA

Dunia penerbangan berkaitan dengan cuaca, ketinggian, tekanan, udara, suhu, dsb yang akan dipelajari pada mata pelajaran matematika & fisika. Tak heran jikalau sekolah pilot memprioritaskan calon siswa yang berasal dari jurusan IPA, meskipun dari jurusan lain masih memiliki kesempatan. Bahkan, sejumlah sekolah pilot mengadakan tes akademik untuk kedua mata pelajaran tsb pada calon siswanya. Berangkat dari kondisi ini, kamu disarankan mengambil jurusan IPA supaya bisa lolos seleksi administrasi sekaligus lolos tes akademik.

Sering lakukan olahraga basket atau vertical hanging

Untuk menjadi kadet di sekolah pilot, kamu dituntut memiliki tinggi badan sekitar 160 cm (wanita) dan 165 cm (pria). Bagaimana dengan tinggi badan kamu? Kalau masih belum memenuhi, sering-sering berolahraga. Basket, olahraga yang bisa dilakukan untuk meninggikan badan karena kamu akan banyak berlari dan melompat. Selain basket, kamu juga bisa lakukan olahraga vertical hanging, olahraga yang memanfaatkan besi horizontal sebagai pegangan kedua tangan supaya dapat mengangkat tubuh. Untuk memaksimalkan olahraga, kamu harus perbanyak minum susu untuk pertumbuhan tulang.

Banyak konsumsi vitamin A

Kamu dianjurkan banyak-banyak konsumsi vitamin A supaya mata tetap terjaga kesehatannya. Pasalnya, setiap sekolah pilot mensyaratkan calon siswanya tidak memiliki mata rabun dekat atau jauh. Sumber vitamin A bukan hanya bisa diperoleh dari wortel, melainkan juga dari pepaya, tomat, labu kuning, paprika, kemangi, dan masih banyak lagi. Guna menunjang fungsi vitamin A, usahakan menjaga jarak pandang mata dengan layar komputer/laptop, membaca sambil tiduran atau di tempat gelap, atau menghindari aktivitas lainnya yang dapat merusak mata.